Duka~

Setelah emil, zulfa, lalu aku. Aku sempat berkata pada mereka, "barangkali kalau ditinggal dengan orang yang sangat dekat dengan kita, barangkali aku tidak kuat". Dan akhirnya sekarang aku merasakannya. Sepupuku, anak dari adek bapak, meninggal dunia. Namanya nila. Ya, aku tau, kita belum bisa dibilang akrab dan dekat. Dan juga aku jarang bertemu dengannya, jarang tinggal di rumahnya. Yang aku ingat darinya, dulu sekali waktu aku kesana membawa buku masakan yang aku beli seharga 2000 rupiah dari pedagang asongan di kereta, dia datang dan berkata, "mbak, aku minta ya." jelas aku tidak mungkin menolaknya, jadi langsung saja aku berikan. Barangkali dia segera mempraktekkannya dan aku tidak mencicipinya. ==a


    Aku selalu was, was dan takut, suatu hari aku akan mendapat berita duka itu, langsung dari bapak, ibu, mbak eka atau agil. Aku selalu bersiap mendengarnya. Bukan, aku tidak mengharapkan berita duka datang ke telingaku dengan cepat, bahkan aku tidak mengharapkannya datang, tapi itu pasti datang. :'(

    Tetapi, yang ku harap hanya, ketika nanti berita itu datang, itu datang disaat yang tepat, dengan benteng yang kuat dihatiku, sehingga aku tidak perlu menangis dan tersedu sedan sampai pingsan dan menyusahkan semua orang, tolong, kabulkan itu, Tuhan T.T

~Oh, iya, buat nila, selamat jalan, aku tahu kita tidak sempat saling mengenal, saling bercengkrama. tapi itu pernah aku rencanakan nanti ketika kita bertemu.  Tapi, ternyata itu hanya mimpi sekarang. Harapan yang lebih, kamu tenang disana, sekarang kamu bebas dari apa itu rasa sakit. Love you. ~ R.I.P Nila Putri, Mei 2013

[Monolog]

Untuk kesekian kalinya, aku harus bermusuhan dengan diriku sendiri. Beberapa hari terakhir ini, kami sering berselisih paham. dia A, dan aku B. Lalu kami sama-sama membuat gaduh ruangan kosong, untungnya hanya ada kami berdua. Atau setidaknya ada seekor kucing peliharaan kami yang entah mengapa belakangan ini sangat betah dirumah.

Oke... oke... aku terlalu percaya diri untuk tidak mendengarkannya, aku tidak peduli apa katanya, tapi dia selalu saja memaksaku mendengarkannya.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku sedang tidak ingin mendengarkan siapa-siapa, bahkan kamu!" bentakku suatu siang.

Sebelumnya kami selalu sepaham tentang apapun. Tapi, beberapa saat kemudian dia berkata bahwa, "kamu, tidak akan pernah berubah, inilah kamu, sudah paten menjadi monster." katanya,

Mulai saat itu, aku tidak setuju dengannya, tapi aku tahu itu benar, tapi untuk kali ini, barangkali aku menjadi orang yang munafik dan tidak lagi mau membenarkan apa yang di katakan orang-orang, bahkan diriku sendiri..

~sekian~

Buat : .....

Bung, keinginan terbesarku sekarang, barangkali keinginan busukku, aku ingin menghapus Explant dari muka bumi ini 3:)
"Apa kamu kaget? atau tersentak? sudah biarkan saja. Aku hanya bosan sekali.
Aku ingat, tahun 2009 aku menemukannya bersama dengan ninuk dan kawan-kaawan. Ah, kenapa aku harus mengulang sejarah lagi? apa kamu ingin tau bung? aku saja sudah bosan ketika di tanya perjuangan(ku) dulu ketika harus membangunnya dan bertahan. Sudah ya bung, itu bukan masalah yang penting sekarang.
    Barangkali kakiku belum kuat ya bung, belum ada yang mau dengan keseluruhan loyalitasnya mengurus Explant. Mereka terlalu sibuk dengan kehidupan kuliah dan pribadinya. Atau barangkali mereka hanya terlalu takut mendapatkan nilai yang jelek, dengan beasiswa yang di kurangi, dan bla... bla.... bla.... itu masalah yang sangat klasik, poltek punya aturan yang sangat ketat dalm masalah kuliah. boleh aku sedikit menyimpulkan bung?
    begini, Explant hanya sebagai organisasi kampus yang dijadikan ajang untuk belajar, tidak punya pengaruh apapun untuk masa depan mereka. Dan untuk Explant, mereka tidak berani atau tidak bisa mengorbankan apapun. Apa menurutmu kesimpulanku ini salah bung? Yang aku sayangkan, aku merasa apa yang aku korbankan selama ini sia-sia. Dengan cinta, bahkan apa tujuan sebenarnya aku harus bolos pada waktu kuliah, sendirian di sekret, bertengkar dan menanamkan sedikit rasa benci kepada beberapa orang hanya untuk mempertahankan ideologiku sendiri. Barangkali aku terlalu cinta ya bung?
    Pada awalnya sudah sejak dulu aku sangat ragu ketika harus mempunyai adek tingkat. Itu aku bung, entah apa yang mendasari kenapa aku bisa berfikir gitu, barangkali aku tidak percaya pada siapapun untuk memegangnya. tapi bukankah setiap generasi itu harus berganti bung. Aku hanya tidak tega jika Explant diisi oleh orang-orang yang tidak bersikap loyal. Karena jika begitu, Explant akan mati lagi. Anda tau kan, mencari orang yang mempunyai sifat keras dan berjiwa pemimpin untuk sekarang ini sangat sulit?
    Sudahlah bung, Sejarah bukan apa-apa tanpa ada yang mau mengenangnya.

~ini rahasia ya bung, aku sangat cinta sama Explant. Cuma aku dan kamu yang tau :)
Salam Hangat~

   

~Dear : 'Bung'

hai bung,,,

maaf aku selalu tanpa sebab menyebut namamu di setiap tulisan sampah di blog ini. aku tidak tau kamu siapa, tapi aku berharap kita sudah saling mengenal satu sama lain. Kamu yang aku harap tidak selalu memberiku pujian, tapi kenyataan. Aku sudah terbiasa dengan sangat kuat memasang tameng di hatiku. Aku sekarangsudah mulai kuat bung, kalau kamu tahu. Walaupun aku masih 'melankolis tidak sempurna', yang dengan sangat sigap menanggapi kesedihan di sekitarku, tapi percayalah aku mulai kuat sekarang :D

Pelajaran yang barangkali pernah kau beri dulu dan seterusnya mengajarkan aku hidup itu perjuangan. Aku tidak harus melulu diam dan menunggu orang lain. Aku mulai belajar untuk berkembang dan berfikir dan berusaha dewasa. Aku bukan anak SMA lagi bung, cita-citaku tinggi. Yang aku sesali hanya aku terlalu sering melewati waktuku untuk menunggu orang lain datang, dan merepotkannya.

~sekian dulu ya bung, nanti kita lanjutkan lagi. Salam sayang, ~ :)

-iri hati dan facebook #whatt??? :O-

kalau ada orang yang sangat senang karena punya teman banyak, teman yang dengan sukarela mengomentari status FB.nya dan membagikan jempolnya. apa aku iri? iya aku iri bung. dari 834 orang yang ada di facebook, cuma beberapa yang sering terlihat mengomentari statusku dan menge'like'nya. Aku rasa aku seperti anak-anak yang baru buka facebook, sejak 4 tahun yang lalu aku membuatnya, bahkan temanku tidak sampai 1000. Barangkali kalau sampai 1000, aku akan merayakannya dengan pesta pora :D #lebay sekali ya

Apa tolak ukur seseorang dengan kesuksesan Facebooknya, adalah like dan komentar yang bertubi-tubi?

Ah,,, ini salah satu alternatif bagaimana caraku menyalurkan unek-unek tanpa aku ungkapkan di Facebook. :D

sampai detik ini aku Facebookan dengan rasa iri hati -_-

pantai :D

bung, aku pingin ke pantai, tapi tidak dengan matahari yang melesat tajam di atas kepalaku, memanaskan pasirnya. Aku ingin main air, bersama pasirnya yang putih. Apa gunanya aku ke pantai kalau tidak bermain air, atau setidaknya makan ikan bakar, tapi itu tidak. -___-
Aku hanya melihat orang-orang menarik perahu, pacaran, bermain air, berombak, dan lain-lain. Aku, diam karena takut kepanasan. -__________-

oh, begini saja bung, kita ke pantai pada petang hari, saat matahari terbenam warnanya kemerahan sampai tenggelam, dan kita mencari warna senja sampai memantulkan siluet kita, hanya berdua, kau dan aku. bagaimana?

*untuk siapa saja yang dengan sukarela membawaku ke pantai tanpa kepanasan :)


Sampah :D

Beranikah kamu melihat awan di langit? siang ini warnanya sangat putih, langitnya sangat terik. Aku membayangkan kita tidur di padang rumput luas, ya kita, entah apa kita itu hanya berdua, atau bertiga, berempat, dan seterusnya. Kita saling bercerita tentang mimpi. Banyak orang yang 'mlesetkan' semua diawali dari mimpi, mimpi yang diawali dari tidur.
"Apa kita pernah tidur dan bermimpi senyata ini?" kataku.
Lalu kamu tertawa dan berkata "bahkan kita tidak pernah tidur."
"yang ada di tidur kita hanya mimpi konyol yang barangkali kata orang hanya pertanda ketika kita bangun nanti, ya konyol."
lalu kita tertawa berbarengan, mencari lagi mimpi apa yang akan kita perbincangkan hari ini.

    Bung, aku sangat tahu kamu. kamu lebih kuat dari apapun. kalo boleh sedikit aku berlebihan, kamu sekuat batu karang. sama kerasnya ombak yang menghantammu berulang kali. apa aku berlebihan?
tidak, itu kamu kataku.
dan kita selalu tidak sama. aku selalu iri tahu kamu begitu sempurna. lalu aku, selalu menjadi pemimpi. yang membuat kita sama, kita sama-sama pemimpi. tanpa mau tahu sejauh apa mimpi yang akan kita wujudkan itu, apa benar-benar terwujud atau tidak.

    -bagaimana-bagaimana mimpi itu selalu indah wujudnya.